SEKEDAR MIMPI

March 15th, 2010

SEKEDAR MIMPI

Aku …

Tak ingin beranjak pergi dari sini,

Tak ingin bangun dari mimpi-mimpi yang belum menjadi nyata ini …

Aku …

Akan terus terlelap dengan dunia yang menyatukan kita ini,

Takkan sanggup memaksa tuk saling memisahkan hati

Hingga akhirnya kita kan dipertemukan dengan sepi …

Aku …

Akan tetap tinggal di hati mu

Hingga aku tak sanggup lagi mencium dirimu,

Membelai wajahmu,

Hingga waktu yang akan menghentikan aku

Kamu …

Yang akan selalu aku rindu,

Selalu ada di hati dan pikiran Ku …

tugas IBD 1B

February 21st, 2010

Bab 2

Manusia dan Kebudayaan

A. Manusia

Unsur-Unsur yang Membangun Manusia

Manusia terdiri dari 4 unsur:

  1. Jasad    : badan kasar manusia yang nampak dari luar
  2. Hayat   : mengandung unsur hidup
  3. Ruh      : bimbingan dan pimpinan Tuhan
  4. Nafs     : kesadaran tentang diri sendiri

Manusia Sebagai Satu Kepribadian Mengandung 3 Unsur :

  1. ID                                                    : Merupakan struktur kepribadian yang paling primitif
  2. EGO                           : Bagian dari ID sebagai kepribadian yang berbeda dari lainnya
  3. SUPER EGO   : Struktur kepribadian yang paling akhir terbentuk dari luar

Hakekat Manusia

    1. Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
    2. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk lainnya

Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang terdapat pada manusia misalnya :

  1. intelektual, yaitu perasaan yang berkenaan pada pengetahuan
  2. estetis, perasaan yang berkenaan pada keindahan
  3. perasaan etis, perasaan yang berkenaan pada kebaikan
  4. perasaan diri, perasaan yang berkenaan pada harga diri karena ada kelebihan dari yang lain.
  5. perasaan social, perasaan yang berkenaan pada kelompok
  6. perasaan religius, perasaan yang berkenaan pada agama atau kepercayaan
    1. Makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi
    2. Makhluk ciptaan Tuhan yang terkait dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.

B. Pengertian Kebudayan

Menurut E.B Taylor (1871) Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuaqn, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Menurut C.A Van Peursen, kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan kehidupan setiap kelompok orang-orang berlainan dengan hewan-hwan, maka manusia tidak hidup begut saja ditengan alam, melainkan mengubah alam.

C. Unsur-Unsur Kebudayaan

  • Sistem religi
  • Sistem organisasi kemasyarakatan
  • Sistem pengetahuan
  • Sistem ekonomi
  • Sistem teknologi dan peralatan
  • Bahasa
  • Kesenian

D. Wujud Kebudayaan

Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu :

  1. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia
  2. Kompleks aktivitas
  3. Wujud sebagai benda

E. Orientasi Nilai Budaya

  1. Hakekat hidup manusia : hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstern
  2. Hakekat karya manusia : setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda untuk hidup kedudukan, gerak hidup untuk menambah karya
  3. Hakekat waktu manusia : hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda, masa lalu atau mas kini
  4. Hakekat alam manusia : ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam ada juga yang harus menyatu dengan alam
  5. Hakekar hubugan manusia : mementingkan hubungan antar manusia baik vertikal maupun horizontal

F. Perubahan Kebudayaan

Terjadinya gerakan perubahan kebudayaan disebabkan oleh :

  • Perubahan jumlah penduduk
  • Perubahan lingkungan hidup

Faktor yang Mempengaruhi Diterima atau Tidak Unsur Kebudayaan Baru

  • Terbatasnya masyarakat memiliki hubugan atau kontak
  • Pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan
  • Sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan
  • Dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat

G. Kaitan Manusia dan Kebudayaan

Hubugan antara manusia dan kebudayaan secara sederhana adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia dari sisi lain  hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis. Proses dialektis tercipta melalui tiga tahap :

  1. Eksternalisasi   : Proses dimana manusia mengekspresikan dirinya
  2. Obyektivitas     : Proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif
  3. Internalisasi      : Proses dimana masyarakat kembali dipelajari manusia

tugas IBD

February 21st, 2010

Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai-nilai, kebudayaan, dan berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini perlu karena dirasakan kekurangan pada system pendidikan, baik tingkat menengah maupun pada tingkat perguruan tinggi.

Diharapkan, dengan mendapat mata kuliah ilmu budaya dasar ini mahasiswa dapat memiliki latar belakang yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia pada umumnya dan menimbulkan minat lebih lanjut, agar dengan demikian mahasiswa diharapkan turut mendukung dan mengembangkan kebudayaanya sendiri dengan kreatif.

Latar belakang diberikannya mata kuliah ilmu budaya dasar yang tidak haya malihat dalam konteks pandidikan tinggi tetapi juga dalam konteks budaya, negara, dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut:

  1. Kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa, dan segala keanekaragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yang biasanya tidak lepas dari ikatan-ikatan (primodial) kesukuan dan kedaerahan.
  2. Proses pembangunan dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya. Akibat lebih jauh dari pembenturan nilai budaya ini akan timbul konflik dalam kehidupan.
  3. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakannya. Hal ini merupakan akibat sifat ambivalen teknologi, yang disamping memiliki segi-segi positifnya, juga memiliki segi negatif akibat dampak negatif teknologi, manusia kini menjadi resah dan gelisah.
  1. A. Ilmu Budaya Dasar sebagai Bagian Mata Kuliah Dasar Umum

Ilmu Budaya Dasar merupakan salah satu komponen dari sejumlah Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang merupakan mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi, baik yang bersifat eksakta maupun non eksakta.

Jadi, pendidikan umum yang menitikberatkan pada usha mengembangkan kepribadian mahasiswa, pada dasarnya berbeda dengan mata kuliah Bantu yang bertujuan untuk menopang keahlian mahasiswa dalam disiplin ilmunya.

  1. B. Pengertian Ilmu Budaya Dasar

Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan pertama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”.

Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :

1. Ilmu-ilmu Alamiah ( natural scince ), bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semestak

2. Ilmu-ilmu social (social scince), bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia.

3. Pengetahuan budaya ( the humanities ), bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi.

Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Inggris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahas inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

D. Tujuan Ilmu Budaya Dasar

Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat :

1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.

2. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.

3. Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bagnsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat

4. Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancer dalam berkomunikasi.

E. Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar

Bertitik tolak dari kerangka tujuan yagn telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu adalah :

1. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.

2. Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing jaman dan tempat.
Menilik kedua pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan alam, dengan sesame, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan dengan sang pencipta menjadi tema sentral dalam IBD. Pokok-pokok bahasan yang dikembangkan adalah :

1.Manusia dan cinta kasih
2.Manusia dan Keindahan
3.Manusia dan Penderitaan
4.Manusia dan Keadilan
5.Manusia dan Pandangan hidup
6.Manusia dan tanggungjawab serta pengabdian
7.Manusia dan kegelisahan
8.Manusia dan harapan

individu,keluarga,dan masyarakat

December 17th, 2009

INDIVIDU, KELUARGA, dan MASYARAKAT

  1. I. Individu, Keluarga, dan Masyarakat

Individu

Adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peran khas di dalam lingkungan sosialnya saja, melainkan juga memiliki kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.

Pertumbuhan

Adalah proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal suatu yang semula secara keseluruhan baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan :

  1. Pendirian nativistik
  2. Pendirian empiris dan environmentalistik
  3. Pendirian konvergensi dan interaksionisme
  4. Tahap pertumbuhan individu berdasar psikologi, antara lain :
    1. Masa vital
    2. Masa estetik
    3. Masa intelektual (keserasian bersekolah)
    4. Masa remaja (pra-remaja-remaja-usia mahasiswa)
  1. II. Fungsi Keluarga

Adalah suatu pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga itu.

Macam-macam fungsi Keluarga, di antaranya :

  1. Fungsi Biologis
  2. Fungsi Pemeliharaan
  3. Fungsi Ekonomi
  4. Fungsi Keagamaan
  5. Fungsi Sosial

Individu, bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan. Keluarga, merupakan kumpulan beberapa orang yang terikat oleh satu turunan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, dan berkehendak bersama-sama memuliakan masing-masing anggotanya.

Masyarakat, merupakan suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya. Masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 , yaitu :

  1. Masyarakat Sederhana
  2. Masyarakat Maju, digolongkan menjadi 2, yaitu :
    1. Masyarakat Non-industri (kelompok primer dan sekunder)
    2. Masyarakat Industri
  1. III. Hubungan antara Individu, Keluarga, dan Masyarakat

Untuk menjadi individu yang “Mandiri” harus melalui proses. Proses yang dilaluinya adalah proses pemantapan dalam pergaulan di lingkungan keluarga pada tahap pertama. Karakter yang khas itu terbentuk dalam lingkungan keluarga secara bertahap dan akan mengendap melalui sentuhan-sentuhan interaksi (etika, estetika, dan moral agama). Dan hal tersebut kemudian akan berkelanjutan di lingkungan mayarakat.

penduduk masyarakat serta kebudayaan dan kepribadian

December 17th, 2009

PENDUDUK MASYARAKAT

serta

KEBUDAYAAN dan KEPRIBADIAN

Pertumbuhan penduduk setiap tahunnya akan meningkat dan menurun. Pertumbuhan penduduk yang meningkat dan menurun disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, kematian, kelahiran serta migrasi. Setiap makhluk hidup pasti akan merasakan kelahiran serta kematian. Begitu pula migrasi ini adalah perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain. Migrasi ini juga disebabkan karena faktor sosial dan budaya serta lapangan kerja.

Kebudayaan para ahli arkeolog berbeda-beda pendapat dalam mendefinisikan arti kebudayaan. Namun, pemahamannya hampir sama, yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak.

Kepribadian, para ahli juga berbeda-beda pendapat dalam mendefinisikan arti kepribadian, sama halnya dengan kebudayaan. Kepribadian memiliki susunan-susunan, yaitu pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri. Pembentukan kepribadian ini dari beberapa faktor yaitu, faktor biologis, geografis, kebudayaan khusus, pengalaman kelompok serta pengalaman unik.

Kebudayaan juga berpengaruh terhadap kepribadian, karena budaya mempengaruhi perilaku dan kepribadian individu secara langsung, karena individu tinggal dalam lingkungan masyarakat yang memliki kebudayaan itu.

upaya mengembangkan,meningkatkan,mempertahankan budaya-budaya daerah untuk budaya nasional

December 17th, 2009

UPAYA MENGEMBANGKAN, MENINGKATKAN, MEMPERTAHANKAN BUDAYA-BUDAYA DAERAH UNTUK BUDAYA NASIONAL

Peranan budaya lokal mempunyai peranan yang penting dalam memperkokoh ketahanan budaya bangsa namun kenyataannya sekarang semua itu hanya sebatas teori saja, di prakteknya sudah jarang terlihat peranan budaya lokal tersebut. Sebagian besar akibat pengaruh dari budaya asing dan  arus modernisasi,globalisasi. Sehingga dari akibat tersebut dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan budaya di Indonesia,

antara lain :

¯ Adanya perbedaan karakter kepribadian budaya barat dengan budaya indonesia yang    dapat merusak budaya di Indonesia.

¯ Terkikisnya budaya Indonesia karena terpengaruh budaya asing sehingga budaya Indonesia mulai terlupakan.

¯ Bangsa Indonesia kehilangan ciri atau citra bangsa di mata dunia karena adanya pengaruh budaya asing.

Dan timbul pula permasalahan khusus akibat dari modernisasi (kecanggihan teknologi, dunia ilmu pengetahuan, komputerisasi) dan globalisasi adalah sebagai berikut :

a.  Pola Hidup Konsumtif

Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengkonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

b.  Sikap Individualistik

Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhka. Persoalan kemudian muncul lagi, ketika kita dihadapkan atas kemampuan kita menguasai teknologi yang masih jauh dari negara-negara lain, terutama dengan negara tetangga kita. Dengan kemampuan tersebut mereka lebih dahulu bisa memanfaatkan akulturasi dan transisi budaya dengan mengunakan kemampuan teknologi secara efektif yang sudah hampir merata dalam kehidupan, akibat dari imbas kemampuan tekhnologi tersebut. Dengan itu pula mereka tidak cuma “merebut” wilayah fisik, ekspansi mereka juga sudah merambah ke beberapa kekayaan budaya dan kesenian lokal Indonesia.

Hasil budaya asli bangsa Indonesia yang sudah mengakar dalam masyarakat begitu saja “dicuri” dan diakui oleh Negara lain Seperti yang dialami oleh I La Galigo sebuah traditional property etnis Bugis, Batik dari Jawa, angklung bambu Sunda, Kolontang Minahasa, Kesenian Dayak (yang mayoritas berada di wilayah Indonesia), lagu Indang Sungai Geringging dari Sumatera Barat, lagu Rasa Sayange dari Ambon, Reog Ponorogo dari Ponorogo merupakan hasil kebudayaan bangsa yang “merasa dimemiliki” oleh negara tetangga kita, Malaysia. Sebelumnya tindakan gegabah Malaysia tersebut juga dilakukannya yakni mematenkan rendang asal Minangkabau dan masih banyak lagi warisan budaya yang mulai “terganggu” kepemilikannya.

Disamping itu, pembangunan dalam bidang kebudayaan umumnya sampai saat ini masih menghadapi beberapa permasalahan sebagai akibat dari berbagai perubahan tatanan kehidupan, termasuk tatanan sosial budaya yang berdampak pada terjadinya pergeseran nilai-nilai di dalam kehidupan masyarakat khususnya generasi muda. Meskipun pembangunan dalam bidang kebudayaan yang dilakukan melalui revitalisasi dan reaktualisasi nilai budaya dan pranata sosial kemasyarakatan telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan yang ditandai dengan berkembangnya pemahaman terhadap pentingnya kesadaran multikultural dan menurunnya eskalasi konflik horizontal yang marak pasca reformasi, secara umum masih dihadapi permasalahan dalam domain pengeloalan kebudayaan, antara lain :

(1) rendahnya apresiasi dan kecintaan terhadap budaya lokal, dan sejarah Lokal

(2) semakin pudarnya nilai-nilai solidaritas sosial, keramahtamahan sosial dan rasa cinta   tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, serta semakin menguatnya nilai-nilai materialism

(3) belum memadainya kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman budaya termasuk pelestarian nilai-nilai sejarah pada tingkat lokal.

ANALISIS SWOT

1. Strengths  (Kekuatan)

a.  Budaya Barat yang mengakibatkan timbulnya permasalahan-permasalahan budaya di Indonesia. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya perlahan meninggalkan budaya tradisional dengan alasan mengikuti arus budaya barat, sehingga  bangsa Indonesia dapat kehilangan ciri atau citra bangsa di mata dunia.

b.  Perkembangan zaman dan teknologi (modernisasi dan globalisasi) yang semakin maju sehingga menimbulkan pergeseran cara pandang kebudayaan di dalam masyarakat.

c.  Kurang optimalnya peran serta Pemerintah  pusat maupun Pemerintah daerah  dalam pengelolaan kekayaan budaya Indonesia

d.  Perebutan atau Pematenan  budaya Lokal  Indonesia oleh Negara lain , seperti : yang dialami oleh I La Galigo sebuah traditional property etnis Bugis, Batik dari Jawa, angklung bambu Sunda, Kolontang Minahasa, Kesenian Dayak (yang mayoritas berada di wilayah Indonesia), lagu Indang Sungai Geringging dari Sumatera Barat, lagu Rasa Sayange dari Ambon, Reog Ponorogo dari Ponorogo merupakan hasil kebudayaan bangsa yang “merasa dimemiliki” oleh negara tetangga kita, Malaysia. Sebelumnya tindakan gegabah Malaysia tersebut juga dilakukannya yakni mematenkan rendang asal Minangkabau

2. Weaknesses  (Kelemahan)

a. Begitu kaya dan beragamnya kebudayaan yang dimiliki tiap-tiap daerah merupakan sumber kekuatan bagi bangsa ini menjadi bangsa yang besar di kemudian hari. Kekuatan dan keunggulan budaya bangsa sejatinya manifestasi dari tumbuh suburnya budaya-budaya lokal yang terus dipupuk dengan baik.

b.  Keyakinan masyarakat Indonesia terutama masyarakat di pedesaan terhadap kebudayaan – kebudayaan kuno (warisan nenek moyang ), seperti : memberikan sesajen kepada tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap mempunyai nilai lebih.

c.  Keterlibatan aktif dan rasa memiliki yang besar dari masyarakat daerah terhadap budayanya sendiri yang sangat membantu untuk memajukan kebudayaan lokal.

3. Opportunities  (Peluang)

a.  Menambah pengetahuan tentang budaya asing,serta dapat mempelajari budaya asing tersebut.

b.  Dapat dijadikan dasar untuk menggabungkan budaya Indonesia dengan budaya asing sehingga menciptakan suatu budaya baru.

c.  Adanya perkembangan seni dan sastra yang lebih maju.

d.  Menambah keanekaragaman budaya.

e.  Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.

f.Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.

g.  Tingkat Kehidupan yang lebih Baik. Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

h.  Membuka kerja sama ekonomi dan investasi yang mempercepat pembangunan ekonomi.

4. Threats  (Tantangan)

a.  Mengoptimalkan peran dan wewenang pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam pengelolaan kekayaan budaya untuk memperkokoh ketahanan budaya bangsa.

b.  Memajukan dan meningkatkan terus perkembangan zaman dan teknologi (globalisasi dan modernisasi) di Indonesia agar bangsa kita tidak tertinggal terus oLeh negara lain.

c.   Berusaha untuk menciptakan hasil-hasil budaya dan produk-produk dalam negeri yang khas dan lebih baik lagi kualitasnya.

d.   Melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal agar tetap eksis dan diakui oleh Negara lain.

e.  Lebih meningkatkan pengenalan kebudayaan lokal Indonesia kepada masyarakat terutama masyarakat di pedesaan.

konflik yang terjadi di masyarakat

December 17th, 2009

KONFLIK YANG TERJADI DI MASYARAKAT

Bangsa Indonesia sejak tempo dulu masyarakatnya telah lama berjuang melawan kaum penjajah,dan senantiasa berhadapan dengan konflik. Perang terjadi pada abad-abad yang lampau telah menyisakan pengaruh dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, berupa pengalaman dalam menghadapi konflik, bahkan kadang-kadang sulit dibayangkan tiada hari tanpa konflik dan stress selama dalam perjuangan. Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sejarah masih membuktikan sampai era reformasi sekarang dewasa ini, bangsa Indonesia dihadapkan dengan banyak pertentangan kelompok maupun politik, serta perseteruan kepentingan yang mengakibatkan konflik. Sementara itu masih sangat dirasakan bahwa sistem penegakan hukum kita masih lemah, misalnya dengan terjadinya salah persepsi antara dua kelompok masyarakat yang bertikai akan menambah daftar konflik menjadi meningkat. Konflik pribadi, konflik kepentingan antar individu ataupun konflik antar kelompok.

Pertentangan maupun konflik tersebut dapat dijumpai di seluruh segi kehidupan sehingga muncul pilihan-pilihan yang saling bertentangan dan tidak selaras mengakibatkan rusaknya tatanan keadaan maupun kehidupan bermasyarakat. Kondisi ketentraman dan ketertiban (tramtib) komunitas (pemukiman) maupun kelompok-kelompok ataupun lapisan masyarakat diberbagai daerah di Indonesia dalam beberapa tahun terusik oleh berbagai jenis gangguan dan konflik. Oleh karena itu mengenali pekerjaan sosial secara serius sangat penting untuk dicermati dalam upaya mengatasinya, bila kita gagal dalam mengatasi konflik maupun mengendalikannya akan mengakibatkan situasi dekstruktif yang lebih dahsyat, konflik merupakan masalah pelik untuk segera dicarikan pemecahaannya.
Lalu bagaimana pekerjaan sosial mengatasi konflik?,dalam mencari segi penyelesaiannya, kemanfaatan dan kemaslahatannya, dari berbagai upaya-upaya yang dilakukan seperti antara lain ;
1. Menciptakan kereativitas masyarakat dalam menyikapi suatu konflik
2. Melakukan perubahan sosial yang kondusif pada pasca konflik.
3. Membangun komitmen kebersamaan dalam kelompok yang pernah konflik.
4. Mencegah berulang lagi konflik yang dapat merugikan banyak pihak.
5. Meningkatan fungsi sosial kekeluargaan atas dasar kebersamaan sebagai nilai                      kearifan lokal yang dibangun dan diberdayakan dalam upaya dini menangani konflik.
Namun dari pada itu masih belum dirasakan dapat menyelesaikan konflik secara baik, oleh karena itu perlu untuk diketahui secara mendasar sebagai pokok bahasan dalam upaya mengatasi konflik, berupa faktor penyebab dan sumber konflik, jenis-jenis konflik, tahap-tahap konflik termasuk gejala dan ciri-cirinya serta penanganan, pengelolaan dan pengendalian konflik walaupun hal ini sangat sulit, tetapi dalam pekerjaan sosial perlu diketahui untuk dicari penyelesaiannya.

FAKTOR PENYEBAB DAN SUMBER KONFLIK
Konflik pada hakikatnya adalah segala sesuatu interaksi pertentangan antara dua pihak dan lebih didalam suatu kelompok masyarakat atau pun organisasi masyarakat, konflik dapat terjadi karena ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota dalam kelompok tersebut yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi atau berebut sumber-sumber daya yang terbatas serta merebutkan sumber kehidupan maupun lapangan kerja, dimana masing-masing mempunyai perbedaan, status, tujuan, nilai atau persepsi masing-masing.

Faktor penyebab dan sumber konflik antara lain dibagi dalam tiga hal berupa ;
1. Kepentingan (Interest), Sesuatu kepentingan yang memotivasi orang untuk        melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Motivasi ini tidak hanya dari bagian keinginan pribadi seseorang, tetapi juga dari peran dan statusnya karena adanya             kepentingan.
2. Emosi (Emotion), Emosi sering diwujudkan melalui perasaan yang menyertai      sebagian besar interaksi manusia, antara lain : marah, benci, takut, cemas, bingung,     penolakkan dan sebagainya.
3. Nilai (Value), Nilai ini merupakan komponen konflik yang paling susah dipecahkan        karena nilai merupakan sesuatu hal yang tidak bisa diraba dan dinyatakan secara        nyata. Nilai berada pada kedalaman akar pemikiran dan perasaan tentang benar dan         salah, baik dan buruk, yang pada umumnya mengarah pada sikap dan perilaku   manusia.

SUMBER- SUMBER KONFLIK
Berbagai sumber-sumber konflik dapat saja terjadi mencuat kepermukaan namun bila kita telusuri dapat kita rinci dalam berbagai unsur sbb:
1. Bio Sosial,  Bio sosial bisa dikatakan perasaan frustrasi yang sering menghasilkan agresi sehingga mengarah pada terjadinya konflik. Frustrasi juga dihasilkan dari           kecenderungan ekspektasi pencapaian yang lebih cepat dari apa yang seharusnya diharapkan.
2. Kepribadian dan Interaksi Termasuk dalam hal ini adalah kepribadian yang abrasif            atau suka menghasut, adanya gangguan psikologi, kejengkelan karena        ketidaksederajatan hubungan dan perbedaan gaya interaksi.
3. Struktural Banyak konflik yang melekat pada struktur organisasi dan masyarakat,             karena adanya kekuasaan, status, kelas-kelas masyarakat yang semuanya berpotensi    menjadi konflik apabila dikaitkan dengan hak asasi manusia, pengarusutamaan   jender, dan sebagainya.
4. Budaya dan Ideologi Intensitas konflik dari sumber ini sering dihasilkan dari          perbedaaan politik, sosial, agama dan budaya, termasuk masalah yang timbul          diantara masyarakat karena perbedaan system nilai.

5. Konfergensi Didalam situasi tertentu sumber-sumber konflik tergabung menjadi      satu sehingga menimbulkan kompleksitas konflik itu sendiri.

BERBAGAI JENIS KONFLIK
1. Konflik Pribadi ( Intra personal ) Konflik intrapersonal melibatkan ketidaksesuaian emosi bagi individu ketika kepetingan, tujuan atau nilai-nilai yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan tidak tercapai atau jauh dari menyenangkan.

Konflik ini merintangi kehidupan sehari-hari dan dapat mengganggu kegiatan orang lain. Ketika konflik ini dirasakan atau dialami baik secara fisik, mental atau emosional maka dapat menimbulkan sakit kepala, pusing bahkan stress. Bila akibat konflik ini sampai pada tingkat stress yang mematikan maka akan berada dalam konflik intrapersonal tahap berikutnya yang memiliki sifat destruktif misalnya menjurus kearah tindakan bunuh diri. Konflik intrapersonal merupakan konflik yang terjadi pada perilaku seseorang dimana pikiran dan sikapnya tidak kontrol dan sering menimbulkan emosi yang sangat tinggi.

2. Konflik antara Pribadi ( InterPersonal) Konflik inter pribadi Konflik inter pribadi adalah konflik yang terjadi antara perilaku seseorang dengan mengaitkan kepentingan orang lain yang pikiran dan perilakunya tidak terkontrol, sehingga dapat menimbulkan kegelisahan dan rintangan kehidupan banyak orang. Konflik inter pribadi ini lebih jamak diassosiasikan dengan melibatkan sekelompok orang. Konflik ini tidak dapat diatasi secara external tanpa orang tersebut memiliki kendali secara internal.

b. Konflik antar pribadi Konflik antar pribadi merupakan konflik yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang saling bertentangan karena masing-masing membutuhkan kebutuhan dasar psikologis yaitu :
a). Kebutuhan untuk diperlakuakan sebagai seorang pribadi untuk dihargai.
b) Kebutuhan untuk memiliki sejumlah kontrol.
c). Kebutuhan akan harga diri.
d) Kebutuhan untuk menentukan nasibnya sendiri
e). Kebutuhan menjadi orang yang konsisten

3. Konflik antara Kelompok
a. Konflik inter Kelompok ( Inter Groups ) Konflik ini merupakan pertentangan berbagai    individu dalam suatu kelompok, karena masing-masing individu biasanya memiliki kemauan, kepentingan dan ingin memenuhi kebutuhan dasar psikologisnya dalam waktu yang bersamaan. Bahkan sering dijumpai bahwa di dalam kelompoknya sendiri para anggotanya tidak bersesuaian.
b. Konflik antar kelompok Antara kelompok satu dengan kelompok lainnya terjadi gesekan yang mengarah pada situasi perpecahan atau konflik antar warga anak bangsa, misalnya antar kelompok suku, ras, agama, dan golongan kelompok masyarakat tertentu.

TAHAPAN, GEJALA DAN CIRI KONFLIK

1. TAHAPAN KONFLIK
a. Kondisi yang mendahului (Antecendent Condition) Pada tahap ini terdapat unsur    penyebab antara lain karena kecurigaan , pertentangan pribadi, ras, kelas sosial, politik, sumber daya, keyakinan yang kesemuanya dari faktor-faktor ini tercermin dalam perilaku kehidupan sosial kemasyarakatan.
b. Kemungkinan konflik yang dilihat (Perceived Potential Conflict) Pada tahap ini satu atau kedua belah pihak mulai tampak perubahan kepribadian pada diri masing-masing orang, retaknya kesatuan kelompok dan solidaritas atau kesetiakawanan sosial mulai hilang.
c. Konflik yang dirasa (Felt Conflict) Pada tahap ini benturan kepentingan dan kebutuhan sering terjadi. Satu pihak atau kedua belah pihak yang terlibat melihat keadaan yang tidak memuaskan, meghambat, menakutkan, bahkan mulai mengancam.
d. Perilaku yang tampak (Manifest Behavior) Pada tahap ini orang-orang mulai menanggapi dan mengambil tindakan, sejak dari saling mendiamkan, kemudian pertengkaran secara lisan, berdebat, bersaing, agresif, saling menyerang akhirnya bermusuhan sampai dengan balas dendam yang berkepanjangan. Bentuk perbuatan yang nyata baik berupa lisan atau kata-kata maupun tindakan bergabung jadi satu kemasan.
e. Konflik yang dikelola (Suppressed or Managed Conflict) Pada tahap ini konflik yang sudah terjadi dapat ditekan. Upaya-upaya maksimal untuk meniadakan konflik dilakuakan malalui kesepakatan bersama (negosiasi). Namun demikian meskipun secara lahiriah konflik itu tampaknya seperti sudah berakhir atau dapat diselesaikan namun masalah intinya belum ditanggani, dimana pihak-pihak yang berkonflik hanya sekedar berdamping walaupun dalam hatinya berada dalam keadaan masih panas atau tegang.
f. Penyelesaian sesudah konflik (Management Aftermath) Pada tahap ini apabila konflik tidak dikelola dan diselesaikan, kedua belah pihak yang terlibat akan menanggung akibatnya baik bagi dirinya sendiri, maupun dalam lingkungan sosial khususnya hubungan sosial serta hubungan dengan beberapa orang yang diperlukan. Bila konflik dikelola dan berhasil, maka pihak-pihak yang terlibat perlu menindaklanjuti hasil pengelolaan itu secara konsekuen dan konsisten dengan melandasi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama.

2. GEJALA KONFLIK

Timbulnya gejala konflik berupa :
a. Kombinasi jelas dan agresif Konflik tidak selalu digambarkan dalam bentuk nyata namun pada tahap ini terdapat tanda yang jelas dari konflik yang ditunjukan secara agresif. Contoh: teriakan-teriakan, celaan, ejekan, kekerasan dan sebagainya.
b. Kombinasi dari agresif dan tersembunyi Pada tahap ini terdapat tanda-tanda yang tersembunyi dari konflik yang ditunjukan secara agresif. Contoh : komentar-komentar yang merendahkan, pelecehan, penghinaan, selalu mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang, kebencian untuk mencoreng orang lain, dan sebagainya.
c. Tanda tersembunyi dari konflik yang ditunjukkan secara pasif Pada tahap ini terdapat tanda-tanda tersembunyi dari konflik yang ditunjukkan secara pasif. Contoh : tidak mau berkerja sama, tidak mau ikut pertemuan, cemas tidak mau menyelesaikan masalah.
d. Tanda yang jelas nampak pasif Pada tahap ini terdapat tanda yang jelas nampak yang ditunjukan secara jelas dalam kejadian konflik secara pasif. Contoh : mengirim surat tetapi tidak ada niat melaksanakan kegiatan yang berarti.

3. CIRI KONFLIK

Ciri-ciri konflik dapat ditandai dari :
A. Ciri peristiwa dalam sehari – hari Pada tahap ini tidak begitu mengancam dan paling mudah untuk dikelola karena memiliki ciri-ciri:
a). Terjadinya secara terus menerus sehingga merupakan kebiasaan dan hanya               memerlukan sedikit perhatian.
b). Ditandai oleh perasaan jengkel sehari-hari namun berlalu begitu saja dan     munculnya tidak menentu.
c). Walaupun ada perasaan tidak cocok, kadang-kadang marah tetapi emosinya            cepat mereda.
B. Ciri tantangan Pada tahap ini ditandai dengan sikap kalah atau menang berupa:
a). Kekalahan tampaknya lebih besar karena yang bersangkutan terikat dengan            masalah.
b). Pada tahap ini pengelolaannya tidak dapat dilakukan secara sabar dan hati-hati     karena setiap orang berkaitan dengan masalah yang kompleks.
c). Kelompok yang bersaing tidak suka mencari fakta yang akurat tentang lawan         saingannya sebab tingkat kepercayaannya sudah menurun.

d). Muncul sikap putus asa akibatnya hanya saling sindir menyindir karena strategi    yang digunakan hanya untuk mempertahankan sikapnya sendiri.

C.  Ciri pertentangan /pertikaian Pada tahap ini keinginan untuk menang sangat kuat sekaligus untuk mencederai serta menghilangkan keberadaan kelompok lain, dengan pemikiran bahwa:
a). Konflik telah meningkat dalam eskalasi yang sangat tinggi.
b). Harus ada korban
c). Harus ada yang dihukum
d). Ada upaya untuk memperpanjang konflik
e). Salah satu kelompok harus tidak eksis lagi.

HASIL KAJIAN ANALISA KONFLIK

1. Kondisi yang mendahului (Antecendent Condition) Pada tahap ini terdapat unsur   penyebab antara lain karena kecurigaan , pertentangan pribadi, ras, kelas sosial, politik, sumber daya, keyakinan yang kesemuanya dari faktor-faktor ini tercermin dalam perilaku kehidupan sosial kemasyarakatan.
2. Kemungkinan konflik yang dilihat (Perceived Potential Conflict) Pada tahap ini satu atau kedua belah pihak mulai tampak perubahan kepribadian pada diri masing-masing orang, retaknya kesatuan kelompok dan solidaritas atau kesetiakawanan sosial mulai hilang.
3. Konflik yang dirasa (Felt Conflict) Pada tahap ini benturan kepentingan dan kebutuhan sering terjadi. Satu pihak atau kedua belah pihak yang terlibat melihat keadaan yang tidak memuaskan, meghambat, menakutkan, bahkan mulai mengancam.
4. Perilaku yang tampak (Manifest Behavior) Pada tahap ini orang-orang mulai menanggapi dan mengambil tindakan, sejak dari saling mendiamkan, kemudian pertengkaran secara lisan, berdebat, bersaing, agresif, saling menyerang akhirnya bermusuhan sampai dengan balas dendam yang berkepanjangan. Bentuk perbuatan yang nyata baik berupa lisan atau kata-kata maupun tindakan bergabung jadi satu kemasan.
5. Konflik yang dikelola (Suppressed or Managed Conflict) Pada tahap ini konflik yang sudah terjadi dapat ditekan. Upaya-upaya maksimal untuk meniadakan konflik dilakuakan malalui kesepakatan bersama (negosiasi). Namun demikian meskipun secara lahiriah konflik itu tampaknya seperti sudah berakhir atau dapat diselesaikan namun masalah intinya belum ditanggani, dimana pihak-pihak yang berkonflik hanya sekedar berdamping walaupun dalam hatinya berada dalam keadaan masih panas atau tegang.
6. Sesudah konflik diselesaikan (Management Aftermath) Pada tahap ini apabila konflik tidak dikelola dan diselesaikan, kedua belah pihak yang terlibat akan menanggung akibatnya baik bagi dirinya sendiri, maupun dalam lingkungan sosial khususnya hubungan sosial serta hubungan dengan beberapa orang yang diperlukan. Bila konflik dikelola dan berhasil, maka pihak-pihak yang terlibat perlu menindaklanjuti hasil pengelolaan itu secara konsekuen dan konsisten dengan melandasi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama.
7. Gejala-gejala dan karakteristik konflik baik pada tahapan peristiwa sehari-hari, tahap tantangan maupun tahap pertentangan, serta alternative penanganan, pengelolaan dan pengendaliannya.
8. Memperhatikan ciri khas human relations dalam pekerjaan social : a). Pekerja Sosial menciptakan relasi-relasi (hubungan) untuk tujuan professional,  b). Dalam relasi professional

Pekerja Sosial mengabdikan dirinya untuk kepentingan klien (penyandang masalah) serta kebutuhan dan aspirasi warga masyarakat lainnya. c. Pekerja Sosial menciptakan human relations atas dasar obyektivitas dan mawas diri, peka terhadap kebutuhan orang lain, mampu mengatasi atau melangkah keluar dari kesulitan emosionalnya.

9. Mempertimbangkan jenis-jenis human relations :

a. Kolaborasi : Hubungan antara Pekerja Sosial dengan klien (penyandang masalah) untuk persetujuan kerja dan menyetujui tujuan serta proses perubahan social yang disepakatinya.

b. Tawar-menawar : Persetujuan tawar-menawar antara Pekerja Sosial dengan system-sistem yang lain,

dimana : i). Norma/nilai social yang menekankan perlunya orang berusaha bekerjasama menyelesaikan perbedaan-perbedaan. Pekerja Sosial melakukan persuasi kepada orang lain agar mereka mau bekerjasama (duduk dalam satu meja), walaupun memiliki tujuan yang berbeda-beda.

ii). Relasi tawar-menawar ini merupakan cara memperoleh sumber-sumber yang dapat diakses iii. Kedudukan/kekuatan beberapa aparatur pemerintah sebagai system sumber dapat dilibatkan dalam relasi tawar-menawar ini.

c. Relasi Konflik : Relasi ini dapat terwujud manakala : i). Relasi tawar-menawar tidak berhasil, pihak-pihak yang terlibat tidak memahami hakikat persetujuan. Ii). Terjadi polarisasi diantara perbedaan-perbedaan, tuntutan-tuntutan dan tujuan-tujuan. Iii). Tujuan bagi Pekerja Sosial dan warga masyarakat yang berkonflik dianggap gawat oleh pihak ketiga/pihak lain yang memiliki kepentingannya sendiri, sehingga mereka harus diposisikan sebagai system sasaran. (bagian system dasar pekerjaan social), iv). Tidak ada minat sama sekali bagi pihak-pihak yang bertikai untuk membicarakan perbedaan-perbedaan dan persetujuan.

PENANGANAN, PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN KONFLIK
Pekerja sosial pada prinsipnya memulai dengan kegiatan : pengumpulan data, pengetesan data, analisis data, dan membuat kesimpulan. Pada tahapan pengumpulan data/informasi, pekerja sosial mengumpulkan informasi utama tentang diri klien itu sendiri, maupun tetang masalah konflik yang sedang dihadapi, dan kondisi atau situasi lingkungan sosialnya (person – problem – situation).

Fokus utama intervensi pekerjaan sosial adalah keberfungsian sosial (sosial fungtioning) yaitu interaksi antara orang dengan lingkungan sosialnya yang dapat menyebabkan timbulnya masalah atau terjadinya konflik. Kesulitan apa yang dihadapi atau ketidakenakan yang dirasakan, faktor-faktor penyebabnya, serta akibat yang ditimbulkannya.

Oleh karena itu hasil assessment dapat sangat bermanfaat dalam rangka sbb:

a. Penggunaan informasi untuk penetapan keputusan-keputusan tentang prioritas masalah dan apa yang akan dikerjakan untuk pemecahan masalah tersebut.

b. Mengetahui spesifikasi masalah, penyebab masalah, pertimbangan alternative atau pendekatan-pendekatan untuk pemecahan masalah dan,

c. Seleksi penentuan tujuan dalam rangka penyusunan perencanaan pemecahan masalah. Pelaksanaan kegiatan dari upaya penanganan, pengelolaan dan pengendalian serta cara pandang konflik sbb;

1. PENANGANAN KONFLIK.
Penangan konflik dapat dilakukan dalam tiga bahagian sbb;

a. Penanganan konflik dalam peristiwa sehari – hari :

a). Membuat suatu proses yang menguji dari dua sisi untuk meningakatkan kesamaan pemahamam satu sama lain.

b). Bertanyalah jika reaksi itu proporsional dengan keadaan, sehingga paling tidak membawa sisa emosi dari peristiwa lainnya untuk diselesaikan.

c). Identifikasikan butir-butir kesepakatan dan segera menindaklanjutinya, serta mengindentifikasikan butir-butir ketidaksepakatan untuk tidak ditindak lanjuti.

b. Penanganan pertentangan konflik :

a). Membuat suasana yang aman termasuk menciptakan suatu lingkungan dimana setiap orang merasa aman, yaitu dengan membangun suasana informal, menetapkan kawasan netral, berada dalam kendali dengan agenda kegiatan yang mudah diatur.

b). Tegaslah terhadap fakta tetapi lunak terhadap orang serta mengambil penambahan waktu untuk mendapakan data dan informasi secara detail.

c). Membuat pekerjaan resmi sebagai kegiatan team dengan membagi tanggung jawab sehingga setiap orang mempunyai kesamaan tanggung jawab serta mempunyai alternatif untuk menyesuaikan diri.

d). Mencari kesepakatan minimal tetapi tidak dianjurkan begitu mudahnya membuat kompromi.

e). Memberikan waktu yang cukup untuk menarik kelompok yang bersaing agar dapat menerima kesepakatan tanpa memberikan konsesi atau mengeluarkan tekanan.

d). Upaya ini sangat susah untuk mendudukkan orang-orang yang bertikai berada dalam satu meja, selama yang bersangkutan belum menyadari dan faham untuk membangun perdamaian (peach building), namun harus diupayakan secara keras.

c. Penanganan penyelesaian konflik :

a). Informasi dan data secara detail adalah sangat penting sehingga campur tangan team dari luar harus mau dan mampu memperhatikan data dan informasi secara detail, sehingga dapat menyelami dan meperhitungkan emosi negatif secara cermat.

b). Waktu harus disediakan secara longgar untuk dapat mewawancari semua orang yang terlibat dalam konflik, sehingga dengan demikan dapat dilakukan penggungkapan dan pemahaman masalah yang sesungguhnya dirasakan atau dihadapi masing-masing.

c). Alasan yang logis sering tidak efektif untuk menyadarkan kelompok yang sedang bertikai untuk mengakhiri konflik, karena kentalnya perbedaan yang diunjukkan secara menyolok. Untuk itu dicarikan sumber alternatif untuk menyalurkan energinya agar kadar konfliknya berada pada tahap yang lebih rendah.

d). Menjelaskan tujuan penanganan konflik dengan menciptakan suasana yang menumbuhkan rasa untuk tidak harus selalu menang, kecuali dengan menghargai kearifan setiap orang.

2. PENGELOLAAN KONFLIK
a. Pendekatan win – win solution Prinsip-prinsip pendekatan sama-sama menang atau saling menguntungkan serta saling memuaskan, dimana kedua belah pihak menang dalam keberpihakan atas proses penegakan keadilan dan kebenaran, tetapi kalau masih belum tercapai dapat ditempuh upaya kompromi.
b. Belajar merespon Merespon disini adalah belajar memberikan stimulus dalam bentuk pertimbangan yang arif dan bijaksana. Kalau bereaksi kecenderungannya hanya belajar mendengarkan kemauannya diri sendiri, tetapi kalau merespon lebih banyak mendengarkan orang lain.
c. Penggunaan bahasa yang baik dan positif Ada pepatah bahasa kawi jawa kuno : Ajining diri dumunung ana ing lati. Artinya bahwa harga diri seseorang berada pada apa yang diucapkan melalui bibir dan lidahnya. Oleh karena itu harus berhati-hati menggunakan bahasa, karena kata-kata yang diucapkan biasanya bermakna, sehingga diupayakan menggunakan bahasa yang baik dan positif.
d. Mengenali terjadinya emosi Mengamati segala kejadian atau permasalahan yang dapat menimbulkan kemarahan yang diakibatkan adanya emosi yang tidak terkendalikan. Kecerdasan emosional (EQ) mencakup kemampuan memotivasi dirinya sendiri, dan mampu menangani atau mengendalikan dorongan hati, frustrasi, stress, yang memerlukan pengharapan dan empati.
e. Faktor – faktor ketidak-enakan Faktor-faktor yang dapat menggerakkan timbulnya konflik adalah sesuatu yang tidak mengenakkan seperti : kemarahan, ketakutan, kejengkelan, perasaan bersalah, perasaan terluka hatinya, penyesalan, kecemasan, trauma, dan sebagainya. Kalau faktor-faktor ketidakenakan tersebut dipelajari sebab-sebabnya, maka dapat menemukan langkah positif menuju kearah penyelesaian konflik.
f. Strategi pribadi Untuk mengendalikan rasaketidakenakan maka diperlukan strategi pribadi misalnya dengan gerakan-gerakan tubuh untuk memejamkan mata sejenak, melepaskan ketegangan, mengatur seni pernafasan, berkonsentrasi kepada pokok permasalahan yang sesungguhnya, dan sebagainya yang dapat mengekspresikan tingkat emosinya.
g. Mediasi Seni mediasi diperlukan bila suatu konflik semakin memburuk sehingga diperlukan pihak ketiga sebagai mediator, untuk menengahi konflik-konflik yang terjadi. Dalam mediasi sangat diperlukan suatu keahlian dalam bernegosiasi. Seorang mediator harus netral, adil, berperilaku yang baik, memiliki keterampilan untuk menganalisis, faham terhadap permasalahan yang terjadi, keterbukaan dalam penanganan masalah, memiliki integritas dan etika yang baik, kreatif dan fleksibel serta mampu menemukenali dan mengembangkan perilaku pribadinya masing-masing.
h. Negosiasi Seni negosiasi adalah dimulai dengan belajar untuk mendengar terlebih dahulu permasalahan yang berkaitan dengan konflik, menekan tuntutan-tuntutan yang diajukan salah satu pihak tanpa kejelasan titik persoalannya, kemudian menghindari negosiasi yang bersifat konfrontatif.
i. Pengembangan pendekatan pengelolaan konflik Pendekatan pengelolaan konflik dengan mempersatukan (integrating), kerelaan untuk membantu (obliging), mendominasi (dominating), menghindar (avoiding), dan kompromi (compromising).
j. Respon penolakkan Respon penolakan merupakan usaha untuk menghadapi aspek emosional konflik, seperti : cemas, menerima, memberikan tanggapan (lari atau menyerang) dan refleksi yang seimbang.
k. Gap inter personal Komunikasi merupakan gap inter personal, karena selama konflik berlangsung maka komunikasi yang baik sulit diwujudkan akibat banyaknya kata-kata yang dilontarkan mestinya tidak digunakan sebagaimana mestinya, karena menganggu perasaan orang lain dan dapat menjadikan gap interpersonal.
l. Refleksiologi emosional Perpindahan gerak dari kerjasama yang sifatnya terpaksa dan sering muncul pada saat eskalasi konflik meningkat, sehingga sering dijumpai unsur saling menyalahkan, merahasiakan sesuatu, perasaan tertekan.kemarahan, dan sebagainya.

3. PENGENDALIAN KONFLIK
Perlakuan pengendalian konflik dilaksanakan melalui ;

a. Proses pengendalian konflik Melakukan persepsi tentang konflik itu sendiri, apa komponennya, dari mana sumbernya, bagaimana realisasinya, cara menghindarinya, implementasi penanganannya, pemilihan strategi yang digunakan, evaluasi dampak yang ditimbulkan oleh konflik.

b. Cara pengendalian konflik Memberikan kesempatan kepada semua anggota kelompok untuk mengemukakan pendapatnya tentang kondisi-kondisi penting yang diinginkan sesuai persepsi masing-masing yang harus dipenuhi disesuaikan dengan sumber-sumber daya dan dana yang tersedia dan dapat dimanfaatkan. Kemudian minta satu pihak menempatkan diri pada posisi orang lain dengan memberikan argumentasi kuat terhadap posisi dimaksud, sehinga akan terwujud berbagai alternatif tindakan antara lain berupa: sikap sabar, penghindaran, kekerasan, negosiasi, mediasi, konsiliasi, abritasi, peradilan, dan sebagainya.

c. Tindakan pengendalian konflik

Menghindar, Kompromi, Kompetisi, Akomodasi, Kolaborasi, Kontribusi untuk pengendalian konflik sebagai hasil asesmen, Sanggup menyampaikan pokok masalah penyebab timbulnya konflik, Mau mengakui adanya konflik, Bersedia melatih diri untuk mendengarkan dan mempelajari perbedaan , Sanggup mengajukan usul atau nasihat , Meminimalisasi ketidakcocokan.

4. UPAYA HASIL PEKERJAAN SOSIAL TERHADAP KONFLIK.
Perlu diketahui upaya-upaya hasil dalam konflik sbb; :

a. Hasil konflik dengan cara pandang negatif

Mempertajam perbedaan, Penghamburan tenaga, biaya dan waktu yang sia-sia, Menurunkan semangat beraktivitas, Memilah-milahkan kelompok dan anggota-anggotanya merusak kerjasama, Menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan, Mengurangi produktivitas / hasil karya

b. Hasil konflik dengan cara pandang positif

Permasalahan konflik yang ada menjadi terbuka dan jelas,  Memperbaiki kualitas pemecahan masalah,  Meningkatkan keterlibatan para anggota, Memberikan kesempatan berkomunikasi secara spontan, Menciptakan pertumbuhan dan penguatan hubungan, Meningkatkan produktivitas

c. Hasil konflik dengan jenis- jenis relasi yang dihasilkan akibat dari pengaruh human relations (Antara Pekerja Sosial dengan pihak lain yang terkait) dalam tabel sbb;
PEKERJA SOSIAL KOLOBORASI: Kepercayaan dan persetujuan timbal-balik mengenai                                                 cara dan hasil
TAWAR-MENAWAR: Pertentangan, tetapi ada kemauan untuk membicarakan                                                     perbedaan-perbedaan
RELASI KONFLIK: Ketidak percayaan dan ketidaksetujuan mengenai cara dan hasil
HASIL PERSEPSI PIHAK LAIN: Diinginkan dan sesuai dengan minat-minat pribadi                                     Tidak sepenuhnya sesuai dengan minat-minat pribadi                                           Tidak diinginkan dan tidak sesuai dengan minat-minat pribadi
BEBAN PERSEPSI PIHAK LAIN: Tidak berat, dapat dipenuhi dengan memnggunakan kemampuan dan sumber-sumber yang ada Cukup berat, memerlukan pengembangan kemampuan dan keterampilan-keterampilan baru atau perubahan kemampuan dan keterampilan termasuk realokasi sumber-sumber Sangat berat, karena memerlukan perubahan relasi-relasi status dan kekuatan dasar,kontrol terhadap sumber-sumber.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas dapat kami simpulkan upaya pekerjaan sosial dalam mengatasi konflik berupa tindakan atau langkah-langkah kegiatan sbb;
1. Menciptakan hubungan positif dalam kelompok dengan cara antara lain :
a. Menciptakan pemenang, melakukan voting untuk menentukan pihak yang kalah
b. Mengumumkan penangguhan
c. Menganjurkan partisipasi yang sederajat
d. Aktif mendengarkan
e. Memisahkan fakta dari opini
f. Memisahkan orang dari masalah
g. Memecah belah dan menaklukkan

2.Jangan melakukan tindakan selama menghadapi konflik antara lain :
b. Jangan memberikan kesempatan untuk perjuangan mendapatkan kekuasaan
c. Jangan / tidak memihak dalam konflik
d. Jangan membiarkan konflik menempati agenda anda
e. Jangan terperangkap kengerian
f. Jangan dibodohi oleh proyeksi

3.Mewujudkan action team intervensi
a. Pembentukkan team
b. Melakukan proses intervensi
c. Melakukan parameter
d. Melakukan pengumpulan data
e. Wawancara
f. Menyusun ulang issue
g. Menciptakan alternative
h. Evaluasi dan kesepakatan

cowok = anti belanja???

December 17th, 2009

Cowok = anti belanja ???

Belum tentu !!

Coba ajak pacarmu hang out (baca : nge- date sekaligus shopping) di tempat-tempat berikut. Dijamun, kencan kalian tidak bakal membosankan !!!

Pasar Seni

Banyak hal seru yang bisa kamu lakukan di sini. Salah satunya, menyewa pelukis jalanan untuk membuat karikatur wajahmu dan pacar. Kalau sudah selesai, kalian bisa berburu frame untuk membingkai gambar itu, plus sandal atau kaos kembar yang bisa di pakai pada kencan berikutnya.

Tempat Makan

Berhubung wisata kuliner sedang ‘in’, ajak cowok tersayang untuk mencicipi semua makanan khas kota mu, mulai dari tukang nasi goreng dekat rumah, sampai warung tenda di pusat kota. Ssst… bawa oleh-oleh buat orang rumah, biar hubunganmu dan pacar semakin direstui !!

Hehehehe….

Pasar Swalayan

Belanja bahan makanan di supermarket, lalu masak menu favorit kalian berdua. Mau lebih praktis ? beli sekotak es krim, miniman soda, dan buah kalengan, campur ketiganya sesuai selera, kemudian nikmati sambil ngobrol heart to heart sama cowok kamu.

Pet Shop

Memperhatikan tingkah laku binatang yang lucu, bakal bikin kalian tidak berhenti tersenyum. Coba ‘adopsi’ sepasang kura-kur atau hamster, namakan sesuai nama kamu dan sang pacar. Terus ajak mereka kemanapun kalian pergi sebagai pasangan double date.

jadi bintang sekolah

December 17th, 2009

Jadi Bintang Sekolah

Kamu juga bisa jadi bintang di antara teman-teman sekolahmu, seperti memakai aksesori leher dengan 5 gaya ….

 Kuncir Satu

Caranya :

  1. Setelah merapikan lebar scarf, lingkarkan di leher, dan samakan panjang kedua ujungnya
  2. Ambil satu ujung scarf dan bikin simpul setengah pita sehingga menjadi lebih pendek dari ujung lainnya.

Selesai, deh !!

 Simpul Pramuka

Caranya :

  1. Kalungkan scarf dan rapikan di lehermu.
  2. Ikat scarf dengan bentuk simpul mati yang longgar sebanyak dua kali di dekat leher, lalu atur sampai enak dilihat.

Oh , manisnya …..

 Dasi Lilit

Caranya :

  1. Pasang scarf pada leher dengan salah astu ujung yang lebih pendek.
  2. Gunakan ujung yang lebih panjang untuk melilit ujung pendek, seperti mengikat dasi. Untuk sentuhan akhir, biarkan salah satu ujung scarf tetap lebih panjang dari sisanya.

 Pita Leher

Caranya :

  1. Lingkarkan scarf pada leher, lalu ikat menjadi dua.
  2. Selanjutnya, bikin pita di dekat leher dengan lebar scarf yang ditata longgar plus puffy.

Nicely done !!!

 Ikat Lipat

Caranya :

  1. Lipat-lipat scarf sehingga bentuknya memanjang. Kemudian, lipat panjang scarf menjadi dua bagian dan lingkarkan di leher.
  2. Ambil dua ujung scarf yang lepas, lalu slipkan di antara lipatan ujung satunya. Sekarang, tarik pelan-pelan sampai rapi.

Oke, khan ????

“aku sayang kamu”

December 17th, 2009

“aku sayang kamu”

Kalimat cinta yang satu ini akan terasa lebih ‘manis’ jika diucapkan dengan bahasa daerah yang hanya dimengerti oleh si dia !!!

Bahasa Sunda : Abdi bogoh ka anjeun

Bahasa Jwa : Kulo tresna kalih sampeyan

Bahasa Madura : Sengko’ terro ka be’en

Bahasa Batak Toba : Holong hian do au tuho

Bahasa Bali  : Tiang deman ajak ragane

Bahasa Ambon : Beta cinta se

Bahasa Padang : Ambo cinta kau

Bahasa Manado : Kita cinta pangana

Bahasa Kalimantan Barat : Uwi mawa nemu

Bahasa Betawi : Aye cinta same situ